Setelah lima tahun nggak mudik, akhirnya, kamis – 3 hari menjelang lebaran tahun ini – saya memutuskan untuk pulang kampung, tempat dimana ari-ari ku ditanam (Dusun Kuripan, Kec. Tiga Dihaji, Kab. OKU Selatan). Tujuan mudik kali ini adalah ziarah ke makam “bakas” dan “bini”(sebutan untuk kakek dan nenek dalam bahasa daerah kami, bahasa marga haji), kemudian silaturahmi lebaran dengan saudara dan handai taulan yang masih ada di kampung.
Keputusan mudik kali ini cukup berani, karena saya memutuskan untuk mudik dengan menggunakan motor, sekalian ngerasain mudik dengan motor scorpio kreditan ku, *[3 bulan lagi lunas bro...
]. Coba-coba untuk solo touring dengan perjalanan diperkirakan memakan waktu 12 jam, sekita 560 km. Persiapan sebelum mudik pun dilakukan mulai siang kamis itu juga, karena kebetulan Scorpio sudah mengalami sedikit perubahan di bagian Velg dan Ban. Velg dan Ban asli bawaan Scorpio sudah saya ganti dengan Velg HMF ring 17 dan Ban pakai IRC copotan Ninja 250. Dua minggu sebelumnya juga sudah ganti oli, dan sempet tune-up dulu. Akhirnya persiapan hari kamis itu, cari jas hujan, sempat kekantor sebentar and mampir di Bonjer III buat beli jas hujan. Sampai rumah, karena berfikir bakal banyak ngelewatin jalan lintas, klakson ganti dengan yang bunyinya rada ngagetin. Tambah sedikit air accu dan bersih2 motor…. yang pasti isi tangki full dengan pertamax.
Jum’at pagi rencanya jalan setelah sahur, harus dipending, karena masih ngantuk parah. Akhirnya perjalanan dimulai jam 7 pagi hari jum’at (18 Sept 2009). Celana jeans, baju kaos, sepatu dan tentu nya jaket dah siap di badan, satu buah tas punggung kecil untuk baju ganti udah nemplok di belakang. Yang pasti nggk lupa helm kyt gw yang warna putih…
Start jam 7 pagi dengan harapan sampe Merak 1,5 jam kemudian. Perjalan dari rumah (Ciledug) lewat jalur biasa ke arah Tangerang, parah nya sedikit nggk nyangka sampai Cikupa, pas pasar Cikupa macet parah, hampir setengah jam nggk jalan sama sekali, untungnya pak polis rada cekatan, dan perjalanan dilanjutkan menuju Balaraja, Serang dan Cilegon – Merak. Sampai di Merak jam 09:10 pagi (klo liat di catatan spidometer sih, Ciledug – Merak berjarak kurang lebih 110 km). Ah ternyata sudah banyak motor lain yang antri tiket masuk kapal, umumnya mereka mudik bersama anggota keluarga yang lain dalam satu motor, minimal entah itu bersama pacar atau istri mereka dan tidak sedikit yang motor bebeknya penuh sesak, di depan ada anak kecil, bapaknya (mungkin) kemudian anak kecil lagi dibelakangnya, istri (mungkin) menjadi boncenger terakhir, ditutup dengan sebuah tas pakaian di belakang dengan tambahan kayu sebagai penyangga. Setelah antri dan berpanas ria hampir sekitar 2 jam (harga tiket untuk Motor Rp. 28.000,00), jam 11:00 WIB dapat juga giliran naik kapal, ah dapatnya di dek kapal bawah lagi. *menyebalkan….
Perjalan laut diperkirakan memakan waktu 2 – 3 jam. Karena berfikir masih harus melanjutkan perjalan jauh, saya memutuskan untuk cari ruang penumpang kapal yang menyediakan tempat lesehan agar bisa tidur, masuk ruangan yang katanya VIP dengan tambahan bayar tiket RP. 10.000,00, dan zzzzzzz………………
Sekitar jam 01:20 WIB kapal sudah sandar di pelabuhan Bakauheni dan mengharuskan saya untuk turun lagi ke dek bawah, ah ternyata walaupun gerbang dek kapal belum dibuka, hampir semua motor sudah menyalakan mesin, sesekali gas kenceng, ada lagi yang sedikit nyeleneh bunyiin klakson, kalo saya fikir itu adalah pekerjaan bodoh. Kenapa saya bilang begitu, dengan kondisi dek bawah yang penuh sesak dengan motor dan bus serta truk yang sudah menyalakan mesin mereka, kondisinya sangat panas dan penuh dengan asap, akhirnya apa yg pengendara lakukan dengan kadang gas kenceng dan pencet klakson membuat suasana makin panas dan pengap. Saya hanya melihat saja dari tangga turun kapal, kebetulan motor saya tempatkan di pinggir kapal. Setelah gerbang dek sedikit terbuka, baru saya menyalakan motor dan gas motor untuk keluar kapal, lanjut menuju Tj. Karang.
Kondisi jalan menuju Tj. Karang secara umum bisa dikatakan mulus, walau masih ada beberapa tambalan. Terus meluncur melewati Kalianda – Kota Dalam dan Panjang akhirnya sampai di wilayah Tj. Karang (Bakauheni – Tj. Karang berjarak sekitar 90 km). Jalur ini cukup menarik karena ada beberapa tanjakan dan turunan yang di sertai dengan belokan yang cukup panjang, seperti misalnya saat lewat di daerah Tarahan, salah satu daerah rawan kecelakaan di jalur ini. Saat tiba di Tj. Karang jam tangan saya menunjuk pada sekitar jam 3 sore. Karena lihat jarum penunjuk isi tangki belum banyak berkurang, perjalanan terus saya lanjutkan menuju Kota Bumi (karena berencana untuk menginap disana, kebetulan ada sodara). Melintas beberapa daerah, Natar – Bandar Jaya – Kota Bumi, tepat di POM Bensin pertama masuk daerah Kota Bumi (klo nggk salah), saya berhenti isi Bensin (nggk ada pertamax, full tank lagi), istirahat sebentar sambil sholat Ashar. Jam ada di sekitar angka setengah 5 sore. Jalan dari Tj. Karang sampai ke Kota Bumi juga masih tergolong bagus dan ramai, rumah-rumah penduduk masih banyak ditemui di kiri-kanan jalan (Tj. Karang – Kota Bumi berjarak sekitar 100 km). Ada sedikit cerita saat melintas di jalur Natar, dengan kondisi jalan lebar dan lumayan mulus, berjarak sekitar 2-3 km sebelum flyover Natar, saya melaju dengan jarak hampir 5 motor dibelakang sebuah sedan berwarna coklat muda dengan plat daerah Sumatera Selatan, kami berada di jalur kanan jalan, di depan sedan tersebut juga melaju sebuah sepeda motor bebek plat Lampung yang lumayan sarat muatan dengan boncenger nya. Sedan mencoba kasih tanda dengan membunyikan klakson untuk mendahului motor bebek tersebut, tapi tampaknya si bebek dengan santai tetap berada di jalur kanan, kemudian klakson berbunyi lagi dan sedan ambil jalur kiri untuk mendahului, saya mengikuti alur si sedan. Nah pada saat sedan tepat berada di samping si bebek, saya lihat persis karena saya ada di belakang mereka, si bebek seperti tertarik sebuah magnet besar, dengan tiba2 turun jalur ke kiri dan tanpa terhindarkan membentur pintu depan sedan……. *****gedubrakklkdfbirbfribfrhibh…… motor jatuh dan sempat terseret sampai pintu samping bagian belakang sedan. Yang menakjubkan bagi saya adalah, sedan menambah kecepatan dan meninggalkan motor yang jatuh. Saya sempat menghindar dari motor yang jatuh dan MAAF beribu maaf kepada pengendara bebek, saya tidak berhenti dan menolong si korban, yang terpikir saat itu adalah mencoba mengejar pengendara sedan dan memintanya berhenti untuk bertanggungjawab. Dengan kecepatan lumayan kenceng saya ikuti sedan dan terus bunyikan klakson memintanya berhenti, tetapi sedan tetap melaju, seorang cewek yang duduk di samping sopir membuka kaca pintu dan bilang “udah lu diem aja, jangan ribut, Ba****t…. udah diem”, tp saya malah makin emosi untuk mencoba membuat mereka berhenti, dan sia-sia mereka tetap melaju, tidak kehabisan akal, saya dahului sedan dan melihat sebentar kebelakang untuk memastikan plat mobilnya, got it, saya terus gas pool sambil liat kiri-kanan jalan memastikan adanya pos polisi, tepat di penghujung flyover Natar, ada pos lebaran polisi, berhenti dan bilang sama mereka tentang kejadian di atas, dengan cekatan polisi dan petugas DLLAJR berlari ke arah jalan memperlambat arus lalu lintas, saat sedan coklat muda itu datang, mereka segera menghentikannya, ahaaaa…. ketangkap kau, dalam hati saya bilang. Cewek yg duduk di sebelah kiri sedan, masih terlihat marah-marah, tapi nggk jelas dia bilang apa, saat sopir turun dari sedan menuju pos polisi dia sempat bilang “kan tadi yang salah motornya”, saya hanya menjawab, “bukan mencari siapa yang salah, tapi kenapa bapak tidak berhenti dan menolong, karena kita tidak tau kondisi korban, parah atau bahkan meninggal” (sebelumnya, pas saya dateng dan cerita ke polisinya, tim medis dan beberapa polisi langsung meluncur ke TKP). Oke selesai laporan sama polisi, saya ijin untuk melanjutkan perjalanan.
Karena waktu masih menunjukkan jam setengah 5 sore, dan hitung punya hitung sampai Muara Dua (Ibukota OKU Selatan) sekitar jam 8 malam, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, nggk jadi nginep di Kota Bumi. Berbekal bensin full tank dan sedikit istirahat tadi, motor kembali saya gas untuk menuju ke Bukit Kemuning (jarak tempuh Kota Bumi – Bikit Kemuning sekitar 50 km). Jam 5:25 sore sampai lah di ujung Bukit Kemuning, karena kebetulan hari itu saya masih puasa, saya berhenti sebentar untuk beli bekal buka puasa, beli rokok sama pocari botol. Eh kok ada lagi yang kecelakaan, warung tempat saya beli rokok ada di pojok jalan kecil menuju kampung dari jalan lintas. Baru masuk warung sebentar tiba-tiba **gedubrakkkkfvnvjnvbibvbvb……… motor Mio dan si bebek, saya lupa merknya, tabrakan, dimana salah satu motor tersebut mau masuk jalur lintas, tanpa lampu sein dan tanpa lihat kiri-kanan. wah… kacau juga cara orang bawa motor di sini…….
Ambil kembalian dari ibu warung, motor saya gas lagi menuju Martapura, Sum-Sel. Setelah perjalanan sekitar setengah jam, jam tangan sudah menunjuk arah jam 6 sore, artinya harus cari tempat untuk buka. Lewat dari pasar Baradatu (Kab. Way Kanan, masih daerah Lampung) saya berhenti di warung kecil, yang jual es dan gorengan. Buka puasa disana…. mmmmm lega rasanya tenggorokan kena air dingin….. Diwarung ini suasana dah mulai gelap, trus cerita2 sedikit sama bapak-bapak yang ada di situ. Beliau menyarankan untuk cari temen rombongan, karena sebentar lagi saya akan melewati areal perkebunan karet sepanjang jalan. Suasana nya gelap dan lumayan rawan kejahatan saat malam, si bapak juga cerita kalau di jalan yang sebelumnya saya lewati, antara Bukit Kemuning dan Baradatu, ada jalan tikungan dan agak menurun, disitu kalau malam suka ada yg siram olie dijalanan, nah pas pengendara jatuh dari motor, mereka akan melakukan kejahatan. *ngeri juga dengernya, untung lewat sana pas masih siang. Oke deh pak, terima kasih info nya, saya lanjutkan perjalanan menuju Martapura.
Karena inget info bapak tadi, di POM Bensin terakhir Baradatu, saya sempat berhenti sebentar untuk mencari temen bareng ke arah Martapura. Nggak nyangka ada 3 motor masuk POM, 2 dengan Plat B dan 1 dengan plat A. Pas mereka berhenti langsung aja sok akrab dan tanya tujuan mereka, ternyata pas banget, mereka menuju ke Martapura. Akhirnya ikut kompoi dengan mereka melewati perkebunan karet. Sedih juga liat robongan ini, mereka pulang kampung dengan keluarganya, istri dan anak…. mmmmmm, kyaknya nggk deh klo harus pulang kampung kayak gini….. Kemudian melanjutkan perjalan ke Martapura, saya ada dibelakang mereka, wah emang gelap and serem wilayah ini. Tapi capek juga ternyata ngikutin rombongan ini, mereka melaju dengan kecepatan rata 45 km/jam, paling sesekali aja sampe ke angka 60 km/jam. Woooaaaahhhh….. mulai sedikit ngantuk deh….
Jam 8:15 malam, sampe juga akhirnya di Martapura trus memisahkan diri dari kelompok ini, karena kondisi badan mulai capek dan ngantuk saya berhenti disebuah minimarket. Beli kopi kaleng, nikmatin sebentar dengan sebatang rokok. Liat jarum fuel sudah hampir garis merah, mampir sebentar POM Bensin, full tank lagi.
Martapura, ambil arah kiri menuju Muara Dua, melewati jalan berkelok di pinggir sungai komering, kiri-kanan jalan adalah rumah penduduk, satu jam kemudian sampai lah di Muara Dua….. dari sini dusun ku masih 25 km lagi. Istirahat di rumah salah satu sodara, agak lama karena cerita2 dulu. Jam 11 malam melanjutkan perjalanan ke dusun, Alhamdulillah hampir jam setengah 12 malam, sampe juga di dusun Kuripan….. ,,,,
mmmmmmmmmm cukup melelahkan, tapi tergantikan dengan kenikmatan perjalanan……








